Vaksin AI Baru, Ditunggu
Akhir tahun ini pemerintah rencananya mengeluarkan bibit vaksin AI (Avian Influenza) terbaru.

Jarang terdengarnya wabah AI (Avian Influenza) dengan ditandai kematian massal pada ayam pedaging (broiler) dan ayam petelur (layer) belakangan ini, bukan berarti ancaman virus H5N1 itu mereda. Indikasi pergeseran efikasi (kemanjuran) vaksin AI yang selama ini diterapkan mulai terlihat.
Yang kemudian sering ditemui saat ini, kasus AI tidak menimbulkan kematian yang tinggi. Tetapi serangannya pada layer mengakibatkan produksi telur pada masa puncak tidak maksimal. Virus H5N1 seakan menjelma dengan muka baru. Peternak dituntut lebih jeli. Sebagian mulai mempertanyakan vaksin AI apa yang baik digunakan saat ini?
Efikasi Vaksin AI
Guna menjawab kegalauan itu, belum lama ini ahli virologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr drh I Wayan Teguh Wibawan menggandeng beberapa peternak berinisiatif melakukan uji tantang untuk melihat efikasi vaksin-vaksin AI yang beredar di pasaran terhadap virus H5N1 terbaru. Uji tantang dilakukan pada peternakan ayam di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Pertama, Wayan melakukan pengujian terhadap ayam yang tidak divaksin lalu ditantang dengan virus H5N1 dari Nagrak Sukabumi dan Jawa Timur. Hasilnya pada hari kedua ayam sudah mati semua. Kedua, dilakukan pengujian menggunakan vaksin heterolog (H5N2), hasilnya pada hari ketiga 90% ayam mati. “Saya sulit merekomendasikasikan penggunaan vaksin heterolog,” kata Wayan kepada TROBOS baru-baru ini di Kampus IPB.
Ketiga, pengujian dilakukan menggunakan vaksin homolog H5N strain (jenis) Legok. Hasilnya, ditantang dengan virus lapang H5N1 asal Jawa Timur ayam masih kuat. Sedangkan uji tantang dengan virus asal Sukabumi, vaksin Legok tidak mampu menangkal lagi, ayam terinfeksi. Terakhir pengujian dilakukan menggunakan vaksin AI polivalen (strain virus gabungan). Hasilnya vaksin tersebut bisa melindungi ayam sampai 90%.
Dari hasil pengujian tersebut Wayan menyimpulkan, harapan baru vaksin AI dengan efikasi tinggi adalah vaksin AI polivalen atau bisa juga disebut cocktail AI. Lebih lanjut ia menjelaskan, saat ini setidaknya ada 3 strain virus AI di lapangan yaitu Legok, Konawe, dan Sukabumi.

Yang berbeda dari masing-masing strain itu adalah antigen H atau Haemagglutinin-nya. Sebagaimana diketahui yang berperan pada awal infeksi virus H5N1 adalah unsur H-nya. Kemudian pada akhir infeksi yang berperan baru unsur N-nya (Neuraminidase), pada saat virus keluar dari sel. Vaksin berfungsi sebagai anti H supaya virus tidak menempel.
Wayan mengatakan, vaksin AI dengan strain yang ada saat ini tidak mampu lagi melawan virus H5N1 yang baru. Misalnya vaksin yang diberikan strain Legok sementara yang menyerang strain Sukabumi, tentunya tidak efektif. Jarak genetik virus H5N1 masing-masing strain tersebut pada pohon filogenik semakin jauh.
Menurut Wayan, karakteristik strain Legok dan Sukabumi sudah jauh berbeda. Ia berharap dengan adanya vaksin cocktail yang berisi 2 atau 3 strain itu bisa menahan berbagai bentuk virus AI di lapangan. “Pemerintah harus segera merespon kebutuhan akan vaksin AI baru ini,” kata Wayan
Ia menilai respon pemerintah terbilang lambat karena adanya prosedur dan sebagainya, sehingga pihak swasta sudah melakukan terlebih dahulu. Sudah 3 tahun lalu Wayan menghimbau pemerintah untuk melakukan uji tantang vaksin AI yang beredar dengan virus AI baru di lapangan, hingga saat ini belum dilakukan.
Ia menghimbau pemerintah agar tidak hanya melakukan sequencing (pemetaan DNA), namun juga ekspresi biologis dari virus tersebut perlu diamati. Ia berharap hasil penelitian OFFLU (kerjasama lembaga OIE, USAID, dan FAO) di Laboratorium AAHL Geelong Australia beberapa waktu lalu segera dilegalisasikan. Penelitian tersebut dilakukan untuk analisa hasil sequencing isolat-isolat virus AI yang ada di Indonesia.
Berdasarkan pemantauan Wayan, saat ini produk vaksin cocktail sudah mulai dipakai para peternak ayam. Meski secara legal pemerintah belum mengeluarkan izin vaksin tersebut. Ia berpandangan, kelak semua produsen obat akan mengarah pembuatan bentuk vaksin seperti ini.
Ia mengingatkan, kasus AI tidak hanya menyebar pada satu peternakan saja, namun bisa sampai satu wilayah yang cukup luas. “Keganasan virus yang baru morbiditas-nya kian tinggi, bisa menimbulkan kematian dalam waktu hitungan jam,” tegas Wayan.
Ia menambahkan, gejala klinis masih bisa terlihat antara lain pendarahan hebat di organ tubuh terutama di jantung, uterus, lemak tubuh, dan otot. Lalu ada cairan di paru-paru dan kantong jantung. “Virus yang baru ini tergolong sangat akut,” katanya.
Di lapangan akhir-akhir ini, menurut Wayan, dari akhir 2009 sampai Maret 2010, kasus klinis AI di Indonesia masih banyak ditemukan. Misalnya di daerah Jawa Barat. Kebanyakan kasus AI yang terjadi menyerang ayam-ayam yang sudah divaksin. Hal ini terjadi karena kelompok virus yang menyerang sudah berbeda dengan komposisi vaksin yang diberikan.
Soal kebutuhan vaksin AI model baru juga diungkapkan Technical Service PT Romindo Primavetcom, drh Yuana Saputra. Menurutnya untuk vaksin AI yang saat ini banyak digunakan adalah jenis killed (tidak aktif). Padahal, ungkap Yuana, penggunaan jenis vaksin recombinan bisa lebih efektif. Vaksin ini merupakan rekayasa genetik virus H5N1 yang dicangkokkan dalam jenis virus vaksin lainnya. Ia mencontohkan, gen H5 pada virus AI diambil dan dicangkokkan pada virus vaksin cacar.
Yuana yakin proteksinya vaksin tersebut akan lebih baik. Vaksinasi ini tidak hanya meningkatkan kekebalan humoral (bawaan) ayam saja, namum kekebalan antar sel juga bisa dipenuhi,” kata Yuana. Diakuinya di Indonesia belum ada izin untuk pengembangan teknologi semacam ini.
Langkah Pemerintah
Direktur Kesehatan Hewan (Keswan) Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian, Agus Wiyono, coba menjawab semua sorotan terkait penanganan AI. Ia mengatakan, secara teknis dari kasus AI di lapangan sudah mereda. Namun peluang mutasi gentik virus H5N1 kian besar.
Pihaknya mengalami kesulitan memantau kasus-kasus AI di lapangan. Hal ini karena tidak ada keterbukaan dari pihak terkait mulai dari pemerintah daerah, peternak dan swasta. Ia berharap ada laporan bersama. Pemerintah telah menjalin kerjasama penelitian dengan OFFLU. “Saat ini kita tengah menanti penyerahan master seed virus yang sedang diteliti di Australia,” kata Agus. Diakuinya proses ini sedikit terkendala karena harus pakai MTA (Materi Transfer Agreement). Hal ini yang sedang ia kritisi, jangan sampai adanya MTA justru mempersulit posisi Indonesia. “Ini virus kita yang diteliti, bukan virus mereka,” tegas Agus.
Agus mendesak sampai akhir tahun ini master seed (bibit) vaksin AI tersebut sudah bisa digunakan di Indonesia. “Semua produsen obat di Indonesia bisa menggunakan master seed ini secara gratis,” kata Agus. Idealnya, master seed AI baru ini bisa meningkatkan efikasi vaksin AI di lapangan. Nanti, pihaknya akan melibatkan unit dan balai uji terkait untuk melihat kesesuaian vaksin master seed baru ini dengan virus lapangan.
Terkait reverse genetic vaksin AI (rekayasa genetik), Agus mengatakan, pemerintah masih menetapkan reverse genetic sebagai GMO (Genetically Modified Organism). Diakuinya, bagian ini harus melalui prosedur yang sulit. Teknologi ini masih dikaji oleh Balai Penelitian Veteriner menggandeng peneliti dari akademisi. “Hasilnya nanti untuk memprovokasi penggunaan teknologi ini. Kita cari celah-celah yang tidak melanggar undang-undang,” kata Agus.
Menyoroti soal penanganan AI, National Technical Manager PT Agro Makmur Sentosa (produsen dan distributor obat hewan), Rueslan Isdhianto mengatakan, saat ini produsen obat sedikit bingung menentukan isolat vaksin mana yang efektif untuk mencegah AI. Faktanya yang dibolehkan saat ini hanya strain Legok, sementara vaksin impor jumlahnya terbatas.
“Kita masih menunggu kepastian soal isolat master seed vaksin AI terbaru dari pemerintah,” kata Rueslan. Ia menambahkan,untuk memutus mata rantai penyakit AI satu-satunya jalan adalah stamping out (pemusnahan massal). Ia menyayangkan pemerintah tidak menerapkan kebijakan ini.
Upaya peternak memperketat program vaksinasi dinilai Rueslan masih belum efektif. Pasalnya tingkat sanitasi dan biosekuriti para peternak ayam di Indonesia masih lemah. “Akhirnya AI dianggap teman saja,” ujar Rueslan.
Virulensi dan Mutasi
Menurunnya efikasi vaksin AI diduga kuat karena virus H5N1 di lapangan secara alami terus bermutasi. Menurut Wayan, perubahan atau mutasi genetik virus AI secara signifikan bisa terlihat dalam kurun waktu 2 tahun. Mutasi genetik virus AI bisa terjadi karena faktor cara penggunaan vaksin yang tanggung atau kurang tepat.
Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Juni 2011